Thursday, July 28, 2011

Aman Berpuasa bagi Penderita Maag

Bagi Anda pasien sakit maag karena gangguan fungsional, berpuasa justru akan mengurangi keluhan penyakitnya. Karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui jenis maag mana yang Anda derita.



Anda yang menderita sakit maag mungkin masih risau apakah boleh atau tidak untuk menjalankan puasa. Seperti diketahui, penyakit maag umumnya dapat kambuh saat kita telat makan atau menahan lapar. Namun, sebenarnya kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi. Justru dengan berpuasa,penyakit maag yang kita derita akan makin berkurang.



“Penyakit maag yang hanya karena gangguan fungsional biasanya keluhan sakit maagnya justru berkurang dan merasa lebih sehat setelah berpuasa. Karena, selama berpuasa, makan lebih teratur dengan waktu yang sama setiap hari yaitu saat sahur dan berbuka,” kata Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB FACP dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, di Jakarta.



Saat ini prevalensi terjadinya sakit maag pada masyarakat Amerika hampir mencapai 26 persen, sedangkan di Inggris sekitar 41 persen. Sementara itu, penelitian terakhir pada masyarakat Jakarta beberapa tahun yang lalu mendapatkan angka bahwa hampir 50 persen masyarakat Jakarta menderita sakit maag.



Ari menerangkan, secara umum sakit maag atau dikenal juga dengan dispepsia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu sakit maag fungsional dan sakit maag organik. Kepastian pembagian ini tentu setelah dilakukan peneropongan dengan alat yang disebut endoskopi.



Sakit maag fungsional terjadi apabila pada pemeriksaan dengan endoskopi tidak didapatkan kelainan secara anatomi. Adapun, sakit maag organik adalah secara pemeriksaan lebih lanjut dengan endoskopi didapatkan kelainan secara anatomi.



“Misalnya luka dalam atau luka lecet pada kerongkongan, lambung atau usus dua belas jari, polip pada kerongkongan, lambung, atau usus dua belas jari serta kanker pada organ pencernaan tersebut,” terangnya.



Pada saat berpuasa, terang dia, terutama setelah enam sampai delapan jam perut kosong akan terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala sakit maag. Keadaan ini biasanya berlangsung hanya pada satu minggu puasa pertama dan gejala ini tidak dirasakan lagi pada minggu berikutnya.



Pada orang yang sehat, keadaan ini dapat diatasi dengan pilihan makan yang tepat saat berbuka dan sahur, kegiatan yang tidak menyebabkan terjadinya peningkatan udara di dalam lambung serta peningkatan asam lambung. Adapun pada orang yang memang terdapat kelainan organik, puasa akan memperberat kondisi sakit lambungnya jika tidak diobati dengan tepat.



”Karena itu, saya sampaikan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi para penderita sakit maag untuk pergi ke dokter untuk mengevaluasi apakah sakit maag yang diderita, termasuk dengan kelainan organik atau hanya fungsional,” ujar Ari.



Jika diketahui bahwa terjadi kelainan organik khususnya pada penderita tukak atau luka yang dalam dan cenderung terjadi perdarahan atau kanker lambung yang juga selalu berdarah, tentu tidak dapat melaksanakan puasa. Namun, untuk penderita tukak, baik di usus dua belas jari maupun di lambung selama pengobatan dapat melaksanakan ibadah puasa.



Ari memaparkan,hasil penelitian di RSCM membuktikan bahwa pada pasien yang sudah mempunyai sakit maag yang kronis perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terlebih dahulu, sebelum melaksanakan ibadah puasa.



”Apabila maag bisa diobati terlebih dahulu atau melaksanakan puasa dengan tetap minum obat sehingga akibat yang tidak diharapkan tidak terjadi,” katanya.



Jika Anda ternyata menderita sakit maag karena gangguan fungsional, biasanya dengan berpuasa keluhan sakit maagnya berkurang dan merasa lebih sehat pada saat berpuasa.



Hal ini terjadi karena keluhan sakit maag yang timbul pada pasien akibat ketidakteraturan makan, konsumsi makanan camilan seperti makanan yang berlemak, asam, dan pedas sepanjang hari, konsumsi minuman bersoda dan minum kopi, merokok dan juga faktor stres.



Selama berpuasa, pasien-pasien ini pasti makan lebih teratur karena hanya dua kali dengan waktu yang lebih kurang sama setiap harinya selama puasa Ramadan yaitu saat sahur dan berbuka.



”Selama berpuasa, kebiasaan makan camilan dan minum soda pasti tidak dilakukan selama pagi siang maupun sore hari karena sedang berpuasa,” tuturnya.



Umumnya, lanjut dia, orang yang berpuasa juga akan lebih banyak bersabar dan mengendalikan stres. Hal-hal inilah yang menyebabkan pasien dengan gangguan fungsional tersebut dapat berpuasa dengan baik dan keluhan sakit maagnya akan berkurang. Adapun pasien yang tidak mempunyai masalah dengan lambung, sebelumnya tidak perlu takut akan mengalami sakit maag saat berpuasa.

No comments:

Post a Comment