Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

Mengingat Masa Lalu Membuat Tubuh Mudah Sakit

Mengingat Masa LaluMengingat kejadian di masa lalu yang menyedihkan atau menimbulkan kemarahan dapat membuat penyakit lebih mudah bersarang di tubuh. Demikian menurut para peneliti dari University of Granada, Spanyol.

Para peneliti dari University of Granada mengadakan riset yang melibatkan 50 pria dan wanita. Mereka diminta untuk mengisi survey mengenai perasaan mereka terhadap masa lalu dan masa depan. Dari daftar pertanyaan yang diajukan, di antaranya apa saja tindakan yang mereka sesali, apa yang seharusnya mereka lakukan, juga bagaimana mereka menikmati hidup mereka saat ini. Jawaban para responden kemudian dihubungkan dengan kesehatan fisik dan mental, serta kualitas gaya hidup mereka.

Penelitian ini menyimpulkan, orang-orang yang seringkali menyesali masa lalu dan mengenang kejadian yang sudah lewat dengan penuh kesedihan, terbukti lebih mudah terserang penyakit dan memiliki kualitas kesehatan yang buruk. Orang-orang yang masih menyimpan dendam di masa lalu juga rentan terhadap rasa sakit.

“Berdasarkan hasil observasi kami, faktor yang paling berpengaruh terhadap kesehatan seseorang ialah persepsi mereka terhadap masa lalu,” ungkap Cristian Oyanadel, anggota tim peneliti.

“Saat orang-orang berpikiran negatif terhadap masa lalu, mereka juga cenderung pesimis dalam memandang masa kini,” lanjutnya, seperti dikutip Daily Mail, Rabu (28/3).

Sebaliknya, orang-orang yang fokus pada rencana masa depan dinilai tidak memiliki dampak negatif pada kesehatan sama sekali. Lalu seperti apakah orang paling bahagia di dunia? Para peneliti menjawab, orang yang paling bahagia ialah orang-orang yang menikmati saat ini sambil menyusun rencana untuk masa depan.

Para peneliti menyarankan untuk mengurangi pandangan negatif dan dendam yang muncul saat mengingat masa lalu. Ya, seperti judul lagu lawas milik band Oasis, “Don’t Look Back in Anger”.

Tuesday, March 27, 2012

Rajin Beribadah Membuat Hidup Lebih Bahagia

Rajin BeribadahSiapa orang yang paling bahagia di dunia?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Gallup, orang yang paling bahagia ialah orang-orang yang rajin mengunjungi rumah ibadah. Tentu saja, untuk beribadah.

Teori ini didapat dari hasil survey Gallup-Healthways Well-Being Index terhadap 300.000 orang. Para responden ditanyai seputar emosi positif (rasa bahagia, tertawa, atau tersenyum) dan emosi negatif (kesedihan, kemarahan, atau stress) yang mereka rasakan sehari sebelum survey dilakukan.

Hasilnya menunjukkan, orang-orang yang rajin mengunjungi rumah ibadah merasakan emosi positif sebanyak rata-rata 3,36 kali, sedangkan yang jarang beribadah tercatat hanya mengalami 3,08 emosi positif setiap harinya.

Bagi kaum Kristiani yang rutin beribadah di gereja, emosi positif mereka di hari Minggu tercatat sebesar 3,49 kali, sedangkan yang jarang pergi ke gereja hanya 3,14 sampai 3,29 kali.

Seperti dikutip Huffington Post, penyebabnya diduga karena pada saat berada di tampat ibadah, para responden dikelilingi banyak orang yang sama-sama memiliki emosi positif.

Kadar emosi positif semakin meningkat jika responden pergi ke rumah ibadah bersama teman-teman atau saudara, yang membuat mereka merasa lebih nyaman dan menciptakan mood positif.

Penelitian ini juga didukung oleh riset lain dari Queen’s University. Riset ini menunjukkan bahwa memikirkan hal-hal berbau relijius dapat meningkatkan kontrol diri saat melakukan hal-hal duniawi.

“Riset ini membuktikan bahwa agama memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Agama bukan hanya urusan dengan Tuhan, tapi juga memiliki fungsi tersendiri,” papar Kevin Rounding dari Queen’s University.

Thursday, March 1, 2012

Orang Tua Depresi Berdampak Buruk pada Perilaku Anak

depresiRiset terbaru menunjukkan, anak-anak yang tinggal bersama orang tua yang mengalami depresi berisiko lebih besar memiliki masalah emosional atau perilaku. Penelitian ini berbeda dengan riset-riset sebelumnya yang mengamati depresi pada ibu atau perempuan serta dampak negatifnya terhadap peluang memiliki anak.

Dalam riset terbaru ini, ilmuwan dari NYO School of Medicine mengkaji data lebih dari 7.200 keluarga di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa 25 persen anak-anak yang memiliki ibu dan ayah dengan gejala depresi cenderung memiliki masalah emosional atau perilaku. Terungkap pula bahwa sekitar 15 persen anak dari ayah mengalami gejala depresi, dan 20 persen anak dari ibu yang depresi mengalami masalah emosional dan perilaku.

Sementara itu, hanya sekitar 6 persen anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki gejala depresi memiliki masalah emosional atau perilaku.

"Temuan ini menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengenali peran ayah dalam kehidupan anak-anak dan keluarga," kata penulis utama studi, Dr Michael Weitzman, seorang profesor pediatri.

Peneliti memperkirakan, ada sekitar 6 persen ayah dari anak-anak tersebut yang menunjukkan gejala depresi. Ada beberapa faktor memicu depresi pada ayah seperti kemiskinan, memiliki anak dengan kebutuhan khusus, hidup dengan istri atau pasangan yang depresi atau memiliki kondisi kesehatan yang buruk. Tetapi peneliti menduga faktor terbesar yang memicu depresi pada ayah adalah pengangguran. Ayah yang pengangguran 6,5 kali lebih berisiko mengalami depresi.

"Ayah memainkan peran sangat penting dalam kehidupan anak-anak dan keluarga, dan hal ini sering terlupakan dalam upaya kita untuk menolong anak-anak," kata Weitzman.

"Kami berharap, temuan ini berguna sebagai upaya untuk mengembangkan strategi dalam mengidentifikasi dan mengobati ayah dengan gejala depresi," tutupnya.

Hasil penelitian ini dipublikasikan secara online pada 23 Februari 2012 dalam Maternal and Child Health Journal.

Tuesday, January 31, 2012

5 Kiat Hidup Bebas Kecemasan

bebas kecemasanPenelitian menunjukkan kebanyakan orang menghabiskan 5 persen dari pagi hari mereka, berarti sekitar 48 menit, untuk cemas tentang sesuatu hal. Sumber kecemasan yang lazim adalah pekerjaan, keluarga, hubungan dengan orang lain, keuangan, atau kesehatan.

Cemas bahkan bisa berkembang menjadi suatu kondisi klinis yang disebut generalized anxiety disorder. Orang yang mengalami gangguan ini cemas tentang berbagai masalah sekaligus, termasuk hal-hal yang ada di luar kontrol mereka, misalnya cuaca dan perang nuklir.

Sebagai manusia, wajar jika kita merasa takut. Tetapi, jangan biarkan perasaan takut atau cemas tersebut mengganggu hidup. Apalagi, seringkali kecemasan itu timbul meski tidak ada penyebab yang jelas, biasanya karena rekaan pikiran sendiri.

Apabila Anda sudah siap mengusir kecemasan dari pikiran Anda, berikut ini adalah beberapa saran dari pakar.

1. Ubah kebiasaan
Bagi kebanyakan orang, kecemasan timbul akibat kebiasaan yang mungkin dipelajari dari orangtua. Karena itu, pertama-tama Anda harus menyadari bahwa Anda adalah orang yang mudah cemas dan terbuka untuk melakukan perubahan perilaku.

2. Gunakan logika
Begitu Anda mulai merasa cemas akan sesuatu, ingatkan diri akan faktanya dan kenyataan bahwa kecemasan yang lalu tidak terbukti. Jika Anda sudah terlanjur membuat sirkuit kecemasan di otak, yang perlu dilakukan adalah membuat sistem sirkuit lain yang lebih rasional.

3. Perhatikan pola makan
Terkadang hal-hal kecil bisa menimbulkan kecemasan, misalnya saja rasa lapar atau makanan tertentu. Kebanyakan orang yang menderita kecemasan kekurangan magnesium. Mengurangi minuman berkafein dan alkohol juga membantu mengurangi rasa cemas.

4. Jangan lupa tarik napas
Olahraga sangatlah penting. Bila Anda sering diliputi kecemasan, olahraga yoga atau taichi sangat membantu menenangkan pikiran sekaligus membantu Anda mengolah napas.

5. Hiduplah untuk saat ini
Melatih kesadaran adalah teknik yang akan membantu Anda untuk hidup pada saat ini. Hilangkan ketakutan berlebihan akan masa lalu dan masa depan.

Friday, January 13, 2012

Menulis di Blog Bikin Remaja Lebih Pede

remaja menulis di blogKebiasaan menulis di situs pribadi seperti blog ternyata berdampak positif bagi perkembangan mental remaja. Dalam studi terbaru terbukti remaja yang punya masalah dalam pergaulannya cenderung lebih tenang dan percaya diri setelah mereka menyampaikan unek-uneknya di blog.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 161 siswa sekolah menengah atas di Israel, yang terdiri dari 124 remaja putri dan 37 remaja laki-laki berusia 15 tahun. Pada umumnya remaja tersebut punya masalah dalam pergaulannya alias kuper.

Para remaja itu dibagi dalam enam kelompok. Empat kelompok ditugaskan untuk mulai menulis di blog, satu kelompok menulis dalam buku harian pribadi mengenai masalah sosialisasi, dan kelompok terakhir tidak melakukan apa pun.

Pada dua kelompok yang diminta ngeblog, mereka fokus menulis tentang persoalan pergaulan dan salah satu kelompok membebaskan pembaca blognya untuk berkomentar. Dua kelompok yang juga melakukan aktivitas ngeblog lainnya diperbolehkan menulis tentang berbagai topik, dan salah satu kelompok tersebut juga terbuka untuk komentar pembaca.

Selama 10 minggu para remaja itu melakukan kebiasaan barunya. Para peneliti kemudian menganalisa kepercayaan diri para remaja itu, termasuk aktivitas sosial dan kebiasaannya sebelum, saat periode penelitian, dan dua bulan pasca durasi penelitian.

Remaja yang berasal dari kelompok menulis blog menunjukkan peningkatan pesat dalam kepercayaan diri. Aspek psikologis lainnya seperti kecemasan dan tekanan emosional juga berkurang.

Peningkatan paling signifikan tampak pada remaja yang diminta "curhat" mengenai masalah pergaulan dan blognya terbuka untuk dikomentari.

"Penelitian menunjukkan menulis buku harian pribadi serta bentuk penulisan ekspresif lainnya adalah cara yang baik untuk melepaskan tekanan emosional. Remaja saat ini sangat dengan dunia online sehingga blog bisa menjadi media ekspresi dan komunikasi dengan sebayanya," kata ketua peneliti Meyran Boniel-Nissim.

Ditambahkan olehnya, meski gangguan di dunia online atau cyberbullying kini semakin luas, namun pada umumnya komentar-komentar yang masuk dalam blog para remaja itu bernada positif dan memberi dukungan.

Wednesday, December 21, 2011

10 Tanda Risiko Bunuh Diri

bunuh diriDepresi termasuk dalam masalah kejiwaan yang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi, orang yang menderita depresi pada umumnya tidak dapat menikmati hidup dan merasakan kehampaan. Karena itu, mereka sangat rentan melakukan bunuh diri.

The National of Mental Health melaporkan bahwa orang pada kelompok usia 65 tahun menyumbang 16 persen dari semua kasus bunuh diri tahun 2004. Di negara maju, seperti Amerika, baru 1 dari 10 pasien depresi yang mendapatkan terapi yang tepat.

Para ahli mengatakan, kondisi ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila bisa terdeteksi lebih awal karena pada dasarnya depresi dapat diobati. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan tanda-tanda peringatan yang memicu depresi.

Setiap orang yang mengalami depresi harus menemui dokter atau ahli kesehatan mental profesional secepat mungkin dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Menurut Barb Delker, ahli terapis keluarga di AS, ada 10 tanda-tanda risiko yang memicu seseorang untuk melakukan bunuh diri, seperti dijelaskan di bawah ini:

1. Berbicara atau mengancam untuk menyakiti diri sendiri.

2. Memperoleh senjata api, pil, atau cara lain untuk bunuh diri.

3. Berbicara tentang kematian atau bunuh diri menjadi sesuatu yang biasa atau lumrah bagi orang tersebut.

4. Merasa putus asa, sering mengamuk, emosi, atau berencana balas dendam.

5. Bertindak sembrono atau terlibat dalam kegiatan berisiko.

6. Merasa terjebak, seperti tidak ada jalan keluar dalam menghadapi sebuah situasi.

7. Peningkatan penyalahgunaan zat adiktif.

8. Menarik diri dari keluarga, teman, atau masyarakat.

9. Merasa cemas, tidak bisa tidur, tidur sepanjang waktu.

10. Perubahan mood secara dramatis.

Delker mengatakan, orang dengan depresi sebaiknya membicarakan masalahnya dengan orang terdekat sehingga perasaan yang dipendam bisa sedikit lega. Sementara itu, dukungan orang terdekat atau keluarga harus terus diberikan.

"Depresi merupakan penyebab bunuh diri, tetapi tidak semua orang yang melakukan bunuh diri disebabkan depresi," kata Delker.

Sunday, December 18, 2011

Menyiasati Insomnia

perempuan insomniaKemampuan manusia untuk menghindari stres yang terbaik adalah dengan tidur. Pada masa istirahat, saat kita tidur, terjadi proses perbaikan dalam hal kebugaran tubuh. Setelah terbangun, badan terasa segar.

Namun, masalah tidur dan perolehan kebugaran karena cukup tidur ternyata bukan hal yang sederhana. Sementara itu, insomnia adalah gejala yang bertentangan dengan hal tidur.

Penderita insomnia mendapat kesulitan untuk tidur nyenyak. Ia akan tidur sekejap untuk kemudian mudah terbangun lagi, sering terbangun oleh mimpi buruk sehingga saat terbangun di pagi hari badan terasa lelah, tidak bergairah, dan diliputi keengganan untuk memulai bekerja.

Memang banyak orang yang merasa sulit tidur jika baru satu malam berada di tempat yang asing atau terpaksa menggunakan peralatan tidur yang berbeda. Sulit tidur seperti itu tidak dapat dikatakan sebagai insomnia. Insomnia adalah gejala sulit tidur yang bersifat kronis.

Kecemasan

Insomnia sering tidak dapat diatasi hanya dengan sekadar obat tidur karena kaitan insomnia dengan kondisi kecemasan psikologis sangat kuat. Bahkan, insomnia itu sendiri justru merupakan gejala yang bisa muncul oleh bermacam konflik emosional yang diderita seseorang. Jadi, gejala insomnia bukanlah gejala tunggal, kecuali pada gangguan tidur yang disebabkan oleh luka organik pada sistem saraf pusat atau perkembangan penyakit saraf sistemis, tetapi juga merupakan indikasi dari kondisi neurotik.

Karena itu, untuk kasus insomnia, para dokter hendaknya bekerja secara tim dengan psikolog klinis agar proses percepatan upaya penyembuhan penderita insomnia dapat dilakukan dengan hasil yang lebih optimal. Seba, siapa tahu sumber utama keluhan insomnia justru terletak pada aspek kepribadian penderita itu sendiri.

Upaya menyiasati insomnia

Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa tidak adanya rasa tenang dan aman secara psikologis menyebabkan ketegangan emosi berlanjut yang bisa menjadi salah satu penyebab seseorang menderita insomnia. Namun, terkadang upaya sederhana yang terurai di bawah ini dapat membantu meringankan gejala insomnia bahkan dapat menyembuhkan insomnia.

1. Cobalah membuat diri rileks satu jam menjelang tidur dengan mendengarkan musik yang lembut atau membaca cerita ringan yang tidak merangsang gejolak emosi.

2. Hindarilah aktivitas fisik yang melelahkan sebelum tidur. Rencanakan kegiatan menyikat gigi, aktivitas di toilet, dan membersihkan tubuh satu jam sebelum tidur.

3. Jika terasa sulit tidur, lebih baik berbaring diam melepas lelah daripada gelisah dan membalik-balikkan badan di tempat tidur karena tidur tidak akan datang. Tidur merupakan aktivitas yang datang dengan sendirinya secara rileks dan lembut, bukan hasil perjuangan yang keras. Jadi, semakin tubuh bergerak gelisah semakin jauh kemungkinan kita bisa tertidur dengan nyenyak.

4. Setiap masa tidur selalu akan ditandai oleh gerakan tubuh setelah jeda waktu tertentu. Waktu tidur yang tenang tanpa gerakan terjadi hanya sekitar 12 menit, untuk kemudian gerakan tubuh tertentu saat tidur membuat seseorang terbangun tiba-tiba. Namun, terbangun beberapa kali oleh gerakan tubuh bukan berarti telah terjadi gangguan tidur. Jadi, jangan terlampau cepat mengambil kesimpulan bahwa kita susah tidur.

5. Dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa kita sulit tidur, tanpa disadari kita mengantisipasi diri untuk mendapatkan gangguan tidur saat waktu tidur tiba.

6. Melepaskan diri dari gangguan tidur dapat kita peroleh dengan berupaya menerima hal itu dengan jiwa besar, tanpa perlawanan keras dengan mengatakan kepada diri, misalnya, saya harus bisa tidur malam ini, atau mengucapkan kalimat seperti: ”Wah, hari sudah gelap, saya takut tidak bisa tidur lagi malam ini.”

Berbagai ungkapan yang mengantisipasi diri untuk tidak bisa tidur akan justru membuat kita sulit tidur. Semakin dilawan atau semakin ditakuti, ketegangan emosi oleh perlawanan dan ketakutan tersebut membuat justru kita benar-benar sulit tidur.

7. Jika kita menyadari bahwa ada masalah yang belum terselesaikan, hendaknya kita cari bantuan profesional untuk mendapat solusi yang tepat. Yakinkan diri kita bahwa melalui ketekunan akan dapat menyelesaikan masalah yang selama ini mengakibatkan ketegangan emosi yang berperan dalam insomnia yang diderita.

Solusi yang kita peroleh akan menurunkan ketegangan emosi secara bertahap dan insomnia pun secara bertahap akan dapat teratasi.

Monday, October 31, 2011

Mengapa Shopping Membuat Bahagia?

Shopping Membuat BahagiaBerkeliling mal dan berbelanja sering menjadi pilihan banyak orang, khususnya wanita, untuk mengembalikan mood-nya. Aktivitas yang disebut juga dengan retail therapy ini bahkan kepuasannya disejajarkan dengan seks.

Para peneliti dari Universitas Westminster di London, Inggris, menemukan bahwa pada perempuan, aktivitas shopping mengaktifkan area tertentu di otak yang juga akan aktif saat sedang berhubungan seks.

"Shopping menyebabkan kita berinteraksi dengan dunia dan mengeksplorasi ketertarikan. Membeli barang yang kita sukai juga menggambarkan kita menghargai diri sendiri," kata April Lane Benson, penulis buku To Buy or Not to Buy: Why We Overshop and How to Stop.

Ia menjelaskan, kegiatan berbelanja seharusnya dilakukan secara sadar. Tanyakan pada diri secara jujur apakah kita memiliki waktu, energi, uang, dan pengalihan emosi.

"Shopping seharusnya tidak dipakai untuk mengisi kekosongan di hati. Cara ini tak akan berhasil dan akan menjauhkan kita dari kesadaran apa yang sesungguhnya dibutuhkan dan cara mendapatkannya," katanya.

Walau pun shopping bisa mendatangkan bahagia, tapi jika hanya meninggalkan utang kartu kredit, kebahagiaan itu tak akan bertahan lama. Apalagi, sebagian besar orang membeli barang-barang yang tidak dibutuhkannya.

"Ingatlah bahwa kita tak akan pernah merasa cukup pada apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan," katanya.

Friday, October 21, 2011

Musik Metal Pengaruhi Mental Remaja

Musik Metal Pengaruhi Mental RemajaMusik beraliran heavy metal merupakan jenis musik yang digandrungi remaja. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penggemar musik ini lebih berisiko menderita depresi, bahkan bunuh diri.

Katrina McFerran, dari Melbourne University, Australia, yang melakukan penelitian selama 5 tahun mengenai pengaruh musik pada kondisi mental remaja, menemukan bahwa musik heavy metal menyebabkan gangguan mental pada remaja usia 13-18 tahun.

"Kebanyakan remaja mendengarkan musik untuk tujuan positif, seperti memperbaiki mood atau menambah energi ketika berolahraga. Tetapi, remaja yang berisiko depresi cenderung mendengarkan musik, terutama musik heavy metal, untuk tujuan negatif," kata McFerran.

Ia menambahkan, pengaruh musik bergenre rap, rock, atau pop terhadap kondisi mental remaja ternyata berbeda dengan musik heavy metal.

"Remaja mendengarkan musik heavy metal karena itu menjadi pelarian dari realitas. Mereka juga menemukan musik-musik itu merefleksikan penderitaan mereka sehingga mereka tidak merasa kesepian lagi," katanya.

Kendati begitu, ada juga remaja yang mengatakan mood mereka justru membaik setelah mendengarkan musik metal. "Orangtua dan sekolah bisa melakukan intervensi untuk mencegah gangguan mental yang mungkin dialami remaja," katanya.

Selain itu, ia juga menyarankan agar orangtua membuka komunikasi dengan anak mereka. "Tanyakan perasaan mereka setelah mendengarkan musik heavy metal. Jika anak mengatakan mereka bertambah down, sebaiknya larang anak mendengarkan musik ini," katanya.

Wednesday, September 28, 2011

Mengapa Wanita Mudah Tersinggung?

Fluktuasi hormon sering dituding menjadi penyebab mengapa sebagian besar wanita lebih mudah mengeluh, menggerutu dan gampang tersinggung. Padahal sifat itu sebenarnya diturunkan secara genetik.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para wanita secara genetik memang diprogram untuk bersikap mudah marah dan agresif. Hal itu antara lain karena wanita memiliki gen reseptor serotonin, yakni yang disebut gen 2C. Kabar baiknya, tidak semua wanita mewarisi gen tersebut.

Hormon serotonin memang dikaitkan dengan perasaan marah dan agresi, baik pada manusia atau hewan. Penelitian telah menunjukkan peningkatan aktivitas serotonin berkaitan dengan berkurangnya perilaku agresif.

Sikap mudah marah tersebut ternyata menjadi salah satu penanda beberapa kondisi gangguan kesehatan, salah satunya adalah hipertensi dan penyakit jantung.

Meski kerap mudah tersinggung, keras kepala, dan gampang marah, ternyata sifat-sifat tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan diri dan kebanyakan dimiliki oleh orang yang berkepribadian kuat. Karena itu, orang dengan sifat keras kepala itu dianggap menarik bagi lawan jenis.

Tetapi apakah jika sudah mewarisi gen mudah marah hal itu tidak bisa diubah? Tentu saja. Karena faktor lingkungan memiliki kemampuan untuk mengendalikan, mempengaruhi, bahkan mengubah faktor genetik.

Monday, September 26, 2011

"Penyakit Jiwa" Para Pejabat: Lupa Ingatan

Belakangan ini, menonton berita di televisi, apalagi terkait dengan pemberitaan pejabat di bumi tercinta ini, sering kali membuat kening berkerut. Betapa mudahnya beberapa pejabat mengatakan lupa ketika diperiksa, baik di KPK maupun di persidangan.

Belum lama ini, seorang menteri mengatakan lupa saat diperiksa sebagai saksi di pengadilan saat berurusan dengan kasus korupsi. Lalu beberapa hari kemudian seorang ketua partai besar juga tidak mengakui apa yang pernah dikatakan oleh sang bendahara tentang keterlibatannya dalam suatu perusahaan dan proyek yang ternyata merugikan negara.

Sayangnya, sebenarnya beberapa bukti yang terpampang jelas merujuk pada keterlibatan mereka dalam proses kejadian yang saat ini mereka sangkal dan katakan lupa.

Lupa ingatan itu sakit jiwa
Sebagai seorang psikiater, saya akrab dengan pasien-pasien yang lupa ingatan karena penyakit jiwa yang dinamakan 'demensia'. Yang paling sering datang ke tempat praktik saya adalah pasien dengan demensia alzheimer.

Demensia alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang ditandai dengan penurunan secara nyata dari fungsi memori (kesulitan dalam belajar informasi baru dan memanggil informasi yang dipelajari sebelumnya) dan salah satu dari fungsi intelektual (gangguan bahasa, gangguan melakukan aktivitas motorik, kesulitan dalam mengenal benda, gangguan dalam fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi, pengabstrakkan dan merangkai tindakan).

Keadaan ini mengganggu fungsi pribadi dan sosial individu itu. Meskipun hanya merupakan salah satu dari jenis demensia, angka kejadian alzheimer paling tinggi (lebih dari 50 persen kasus demensia adalah demensia alzheimer). Biasanya demensia atau dikenal dengan penyakit pikun ini diderita oleh pasien yang berusia 60 tahun ke atas walaupun karena beberapa sebab seperti serangan stroke, trauma kepala berat, dan kencing manis yang tidak terkontrol, pasien bisa mengalami gejala-gejala demensia pada usia yang lebih dini. Gejala awal yang paling sering dialami oleh pasien yang mengalami demensia adalah lupa.

Demensia selektif

Lalu apakah yang terjadi pada para pejabat yang sering lupa ingatan terhadap peristiwa terkait tindak korupsi ini bisa dinamakan demensia? Rasanya hal itu memerlukan pemeriksaan yang lebih jauh. Hanya, secara gamblang, kita melihat bahwa apa yang dialami oleh para pejabat ini sepertinya hanya lupa hal-hal tertentu (selektif), bukan lupa semuanya.

Seorang pasien yang mengalami demensia, apalagi tipe alzheimer, memiliki daya pikir yang semakin lama semakin menurun. Pasien sering bahkan sudah mulai lupa tempat tinggalnya di mana atau merasa tempat tinggalnya saat ini bukan rumahnya. Pasien juga bisa lupa dengan anggota keluarganya, bahkan anak-anaknya sendiri.

Jika melihat dari usia, maka para pejabat ini tentunya belum termasuk golongan manusia di atas 60 tahun. Lalu, jika dilihat dari riwayat kesehatan walaupun tentunya tidak pernah dikatakan ke publik, rasanya pejabat-pejabat ini tidak pernah mengalami peristiwa sakit yang berat seperti trauma kepala berat, serangan stroke berdarah yang membuat koma dalam jangka waktu tertentu, atau keracunan zat yang membuat otak menjadi rusak. Artinya secara sepintas dengan mata awam, kita melihat pejabat-pejabat ini baik-baik saja kesehatannya.

"Malingering"

Lalu, kalau demikian, apakah yang dikatakan para pejabat itu masih bisa dipercaya bahwa dirinya lupa? Tentunya, ini merupakan tugas dari para penegak hukum untuk membuktikan apakah benar-benar lupa atau sebaliknya hanya pura-pura lupa. Proses pemeriksaan dan sampai persidangan nanti tentunya diharapkan terdapat suatu proses yang transparan, jujur, adil, dan memperhatikan fakta-fakta yang ada.

Orang bisa seribu kali bilang lupa, tetapi kalau fakta berkata lain, apa yang dikatakannya bisa gugur, atau malah bisa disebut berbohong.

Bicara tentang gangguan jiwa yang sering kali diungkapkan oleh para orang-orang yang terkena atau terlibat kasus-kasus hukum, saya jadi ingat ada suatu terminologi dalam ilmu kedokteran jiwa yang disebut malingering.

Ini merupakan suatu "gangguan jiwa pura-pura" ketika seseorang berusaha menampilkan dirinya dengan gejala-gejala gangguan jiwa agar terhindar dari proses hukum atau pengadilan. Malingering memang bukan diagnosis gangguan jiwa, tetapi memang sepertinya banyak dialami oleh para maling. Salam Sehat Jiwa.
kompas.com

Wednesday, September 21, 2011

Memelihara Hewan Menyehatkan Emosi

Secara ilmiah telah terbukti memelihara hewan menguntungkan kesehatan fisik, mengurangi stres, bahkan mendeteksi gangguan penyakit. Beberapa binatang kini juga boleh dibawa pasien yang ingin melakukan tes kesehatan untuk mengurangi rasa takutnya.

Secara umum terdapat tiga manfaat emosional dan sosial dari memiliki hewan-hewan kesayangan.

1. Mudah bergaul

Dalam beberapa dokumentasi penelitian terungkap orang-orang cacat yang menggunakan jasa hewan pelayan tersebut memiliki self-esteem dan secara psikologi lebih baik dibanding orang yang hidup tanpa bantuan.

Orang tuna netra dan anak-anak di kursi roda yang memiliki anjing juga cenderung lebih aktif secara sosial. Pada umumnya para pemilik hewan peliharaan lebih akrab satu sama lain karena memiliki hal serupa untuk diobrolkan, dengan demikian mereka juga lebih mudah berteman.

2. Mengurangi stres

Tidak ada yang bisa mendengarkan semua keluh kesah Anda tanpa syarat dan tanpa menghakimi selain "si doggy" atau "si meong". Bersama mereka kita bisa mencurahkan segala perasaan dengan bebas. Mereka juga memiliki insting yang seolah bisa memahami suasana hati kita sehingga tanpa diminta mereka akan duduk menemani di samping kita.

Penelitian juga menunjukkan anak-anak yang menghadapi kematian orang tercintanya, pasangan yang bercerai, atau mereka yang trauma, lebih rendah risikonya untuk terkena depresi jika mereka memelihara hewan. Bermain dengan hewan kesayangan selama 15 menit telah terbukti meredakan kecemasan dan stres.

3. Membentuk ikatan

Rasa menyayangi yang timbul kepada hewan-hewan lucu peliharaan kita, begitu pun mereka pada tuannya, akan menyebabkan proses biokemikal dan berpengaruh pada otak. Akibatnya hormon-hormon tertentu akan meningkat, terutama yang berkaitan dengan perasaan nyaman, kepuasan, dan kebahagiaan.

Friday, September 16, 2011

TV Merusak Interaksi Orangtua dan Anak

Beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan, menonton TV selama berjam-jam mempunyai efek buruk bagi kesehatan. Namun studi para ilmuwan di Ohio AS mengungkapkan, selain masalah kesehatan, kebiasaan berlama-lama nonton TV pada anak juga bisa mempengaruhi hubungan komunikasi mereka dengan para orang tua.

Penelitian yang diterbitkan dalam Human Communication Research, memperlihatkan bahwa menonton TV dapat menyebabkan berkurangnya interaksi antara orangtua dan anak. Bahkan juga berdampak buruk pada kemampuan menulis, membaca dan bahasa anak.

Studi yang dilakukan oleh Amy Nathanson dan Eric Rasmussen dari Ohio State University, difokuskan untuk melihat 'respon ibu' ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang memiliki kebiasaan membaca buku, bermain mainan, dan menonton TV.

Para penulis mengeksplorasi interaksi 73 pasang ibu dan anak. Sebagian para ibu diketahui berusia 30-an dan memiliki gelar sarjana, sementara setengahnya sebagai ibu rumah tangga. Usia anak-anak berkisar antara 16 bulan sampai 6 tahun.

Dalam penelitian tersebut, baik ibu dan anak secara acak diberikan satu dari tiga kegiatan selama sepuluh menit. Setelah itu, orang tua diminta untuk mengisi kuesioner terkait perkembangan bahasa dan kemampuan membaca serta menulis anak mereka.

Hasil penelitian menunjukkan, pada kelompok ibu dan anak yang membaca buku bersama-sama, secara signifikan mempunyai komunikasi yang lebih baik dibandingkan pasangan ibu dan anak yang menonton TV.

Walaupun jumlah komunikasi saat membaca buku tidak secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok ibu dan anak yang mainan alat (mobil-mobilan atau boneka). Namun, kualitas respon ibu lebih tinggi ketika anak-anak mereka membaca buku dan bermain dibandingkan menonton TV.

Para peneliti menemukan bahwa ketika orang tua dan anak membaca sebuah buku, mereka akan menggunakan gaya komunikasi yang lebih aktif, mengarahkan anak untuk mempelajari setiap huruf dan kata, dengan demikian meningkatkan perbendaharaan kosakata mereka dan pengetahuan tata bahasa. Sebaliknya pada kelompok ibu dan anak yang menonton TV, hanya sedikit komunikasi yang terjalin.

"Hal ini penting bagi kita untuk membatasi waktu menonton TV pada anak. Hilangnya komunikasi anak dengan orang tua akan berdampak buruk bagi perkembangan anak. Kami mendorong agar para orang tua mencari hiburan di luar TV," kata peneliti.

Saturday, September 10, 2011

Mengapa Menjadi Tua Berarti Semakin Baik

Menua tidak selalu mengindikasikan hal-hal buruk akan datang. Ungkapan bahwa "kebijaksanaan muncul seiring bertambahnya usia" mungkin benar adanya.

Walau tak semua mungkin akan merasakannya, namun sebuah penelitan terbaru yang dimuat Journal of Social Sciences and Medicine menunjukkan bahwa ketika bertambah usia, kita tumbuh dengan perasaan yang lebih bahagia dan puas. Memang tampak kontra-intuitif, tetapi ini memang terbukti dialami oleh pria maupun wanita di Amerika Selatan dan beberapa belahan dunia.

Bagaimana hal ini terjadi? Berikut adalah beberapa alasannya :

1. Mencapai titik rendah pada usia 44 tahun

Riset para ahli di Amerika Selatan dan Inggris berdasarkan data yang dikumpulkan dari pria dan wanita di 80 negara selama 35 tahun mengungkapkan, terlepas dari jenis kelamin, kebangsaan atau status ekonomi, manusia cenderung mengalami kesejahteraan dalam bentuk kurva "u" dengan tahun terkecil terpenuhi jatuh pada usia awal hingga pertengahan 40-an. Sehingga, semakin usia meningkat, kesejahteraan pun turut meningkat.

2. Cara pandang membaik saat mencapai usia 50

Peneliti yang mempelajari mengenai usia pertengahan juga menemukan bukti serupa bahwa setelah kita mencapai usia 40-an--atau setelah mengalami "krisis paruh baya"--suasana hati (mood) kita membaik, begitu juga dengan berbagai hal lainnya. Ini mungkin terjadi karena kita telah semakin cerdas, setidaknya mengenai beberapa hal. Beberapa jenis beban mental juga sebenarnya menjadi lebih mudah ketika kita menginjak usia 50 hingga 60-an, karena kita menerapkan akumulasi pengetahuan atau "crystallized intelligence" terhadap informasi baru.

3. Kita menjadi lebih "goal-oriented."

Pada usia 20 hingga 30-an, kita mengatur standar yang tinggi terhadap diri sendiri baik secara personal maupun profesional. Jika kita tidak mencapai tujuan tersebut dengan standar yang diinginkan saat mencapai 40-an, inilah saat dimana kita cenderung mengalami depresi dan ketidakpuasan yang terkait dengan usia menengah. Tetapi, ketika berusia 50-an, kita menjadi lebih realistis, lebih mementingkan hal-hal yang benar-benar penting yang dapat memberikan rasa pemenuhan (fulfillment), sehingga kemudian kita mulai dapat mengatur tujuan yang baru dan kembali fokus untuk mencapainya.

4. Menemukan kepuasan di dalam pencapaian

Jika kita menghabiskan awal dekade kedewasaan dengan mengidentifikasi diri seperti lirik lagu "(Can't Get No) Satisfaction" dari Rolling Stones. Tidak demikian halnya ketika usia mencapai 50 dan 60-an, karena di pada tahap ini kita cenderung mengubah cara pandang dan hati kita.

Setelah memeriksa realita pada usia 40an dan merumuskan kembali tujuan serta pembaruan, kita menjadi lebih bisa menggunakan sisa usia dengan melihat segala sesuatu dengan jelas dan menghargai proses darimana kita berasal, bagaimana kita dapat sampai di sana, dan apa saja yang telah kita capai di sepanjang jalan.

Thursday, September 8, 2011

Kematian Bayi Bisa Bikin Patah Hati

Kesedihan berkepanjangan akibat kematian bayi yang baru dilahirkan bisa menyebabkan rasa kehilangan yang tak berujung. Perasaan duka ini bisa menyebabkan patah hati bahkan memperpendek usia orang yang mengalaminya.

Rasa kehilangan merupakan hal yang wajar dialami siapa pun yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Dalam penelitian yang dilakukan di Inggris, duka mendalam para orangtua yang kehilangan bayi barunya akan meningkatkan risiko kematian dalam 10 tahun terakhir pasca meninggalnya buah hati.

Para peneliti membandingkan dampak kematian bayi pada orangtua yang kehilangan bayinya dalam setahun pertama atau bayi yang meninggal karena keguguran, dengan orangtua yang bayinya bertahan hidup lebih dari usia setahun.

Hasilnya diketahui orangtua yang kehilangan bayinya beresiko empat kali lebih tinggi untuk meninggal dalam periode 10 tahun pasca kematian bayi. Dampak kehilangan yang terbesar ini terutama dirasakan oleh ibu. Dampak dari kesedihan tersebut akan berkurang dari waktu ke waktu.

Sayangnya dalam penelitian itu tidak disebutkan penyebab kematian orangtua yang berdua itu, namun diduga terkait dengan penyalahgunaan alkohol atau bunuh diri karena depresi yang tidak ditangani.

Monday, August 22, 2011

Obsesi Jadi "Super Mom" Bikin Stres

Menjadi ibu adalah tugas yang menguras banyak tenaga, apalagi untuk seorang ibu bekerja. Kuncinya adalah tetap santai, rasional dan tak perlu malu minta bantuan. Ibu baru yang terobsesi menjadi "super mom" cenderung lebih tertekan, bahkan rentan depresi.



Seorang ibu yang merangkap sebagai wanita karir pada umumnya lebih tertekan, terutama jika mereka tidak bisa mengatur kehidupan keluarga dan pekerjaannya.



"Anggapan bahwa wanita ideal adalah yang bisa mengerjakan semua tugasnya, baik sebagai ibu atau wanita karir justru akan meningkatkan level gejala depresi," kata Katrina Leupp, peneliti dari Universitas Washington, di Seattle, AS.



Leupp menganalisa survei tahun 1987 yang diikuti 1.600 wanita menikah. Para responden itu menjawab pertanyaan untuk menilai dukungan mereka pada status bekerja seorang wanita, termasuk apakah mereka setuju dengan pernyataan seperti "seorang wanita akan lebih bahagia jika mereka tinggal di rumah dan mengasuh anak."



Di tahun 1992 dan 1994, para responden yang kini berusia 40 tahun itu kembali disurvei mengenai gejala-gejala depresi. Seperti pada studi awal, hasil survei mengindikasikan bahwa wanita yang bekerja di luar rumah lebih sedikit memiliki gejala depresi. Leupp menduga karir yang dimiliki membuat para wanita itu lebih banyak interaksi sosial, aktivitas dan penghasilan.



Di antara wanita bekerja, mereka yang paling bahagia adalah yang di awal studi menjawab mereka tidak berharap memiliki karir dan keluarga yang seimbang. "Tampaknya ironis, mereka yang tidak memasang target untuk memiliki kehidupan karir dan keluarga seimbang justru yang mentalnya paling sehat," kata Leupp.



Walau begitu, menurut Leupp bukan berarti sikap optimis akan keseimbangan karir dan keluarga akan mendatangkan depresi. Mungkin saja wanita yang punya sikap optimis dalam penelitian ini ternyata bekerja di lingkungan yang tidak mendukung targetnya.



"Ketika mereka tidak bisa menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarga mereka merasa lebih tertekan dan frustasi," katanya.



Para pakar menyebutkan, menjalani peran ibu adalah sebuah proses. Dibutuhkan kematangan emosi dalam menerima kehadiran anak. Untuk mereka yang bekerja tentu tantangannya menjadi lebih besar, karena itu tak perlu segan meminta bantuan dari suami, orangtua atau teman.



Cukup banyak contoh ibu bekerja yang tetap sukses mengurus keluarganya, Anda bisa menjadikan mereka contoh, terutama untuk menutup hal-hal yang dianggap menjadi kekurangan. Selamat menjalani peran baru.

Orang Cantik Lebih Egois?

Berbanggalah jika Anda sering mendapat pujian sebagai orang yang cantik dan memiliki inner beauty. Meski tidak bisa disamakan, tetapi sebuah penelitian menyebutkan orang yang dianugerahi fisik rupawan biasanya lebih egois.



Seperti dilaporkan oleh situs the Guardian, penelitian menemukan orang-orang yang terlahir dengan bentuk wajah simetris alias menarik lawan jenisnya, biasanya lebih fokus pada hal-hal yang menjadi minatnya ketimbang bekerja sama dengan orang lain. Hasil penelitian ini dibuat berdasarkan tes yang diberikan pada partisipan studi.



Dalam penelitian itu dua orang responden diberi pilihan untuk menjadi "burung merpati" dan bekerjasama dengan orang lain untuk hasil yang baik, atau menjadi "burung elang" yang egois dengan kesempatan meraih hasil lebih besar lagi jika lawannya memilih menjadi "burung merpati".



Kemudian para peneliti menganalisa wajah para responden. Hasilnya ditemukan orang yang wajahnya lebih simetris dan menarik umumnya memilih jawaban untuk tidak bekerjasama.



Penjelasannya mungkin ada pada teori evolusi. Peneliti menjelaskan, secara tidak sadar, orang menilai wajah yang menarik sebagai simbol kesehatan yang baik. Orang yang wajahnya simetris juga pada umumnya memiliki penyakit bawaan lebih sedikit sehingga berpotensi sebagai pasangan yang banyak dipilih. Akibatnya mereka merasa punya banyak kelebihan dan tidak perlu bantuan orang lain.



"Melalui seleksi alamiah yang berlangsung ribuan tahun, karateristik ini tetap berlanjut dalam diri orang-orang yang kini dianggap cantik atau tampan," tulis para peneliti. Kendati demikian kesimpulan ini hanya bersifat teori berdasarkan kesimetrisan bentuk wajah.

Thursday, August 18, 2011

1 dari 5 Pria Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Datangnya cinta memang sulit diduga, termasuk saat pertama mata Anda bertemu pandang dengannya. Sayangnya, love at first sight ini tergolong langka karena kebanyakan orang butuh waktu untuk saling mengenal sebelum mereka saling jatuh cinta.



Dalam penelitian terhadap 1.500 pria dan 1.500 wanita terungkap bahwa 20 persen (1 dari 5) pria mengatakan pernah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebaliknya, hanya 10 persen wanita yang mengungkapkan hal serupa dan mayoritas tidak bisa menentukan apakah yang mereka rasakan itu hal yang nyata sampai kencan yang keenam.



Tak dimungkiri bahwa pria adalah makhluk visual karena dari jawaban para responden terungkap bahwa pria memilih penampilan fisik sebagai faktor penting untuk hadirnya cinta.



Sementara itu, wanita memerlukan waktu lebih panjang sebelum benar-benar merasa klik. Alexander Gordon, profesor psikologi, mengatakan, wanita lebih pandai membaca situasi sosial dan mengevaluasi apakah ia sungguh jatuh cinta. "Wanita juga cenderung memilih pria yang bisa membuatnya aman dan juga pria yang kelak bisa menjadi ayah yang baik," katanya.



Di lain pihak, pria pada umumnya lebih mudah kagum pada lawan jenisnya, terutama yang cantik, sehingga rata-rata pria menjawab mereka sudah tiga kali jatuh cinta dalam hidupnya, sedangkan wanita menjawab satu kali.



Kekaguman pada sosok wanita yang membuatnya tertarik juga mendorong pria lebih mudah mengucapkan "I love you" pertama kali dan lebih sering bertepuk sebelah tangan.



Meski dalam beberapa sisi pria dan wanita berbeda, tetapi mereka sama-sama sepakat bahwa cinta pertama adalah hal yang paling sulit untuk dilupakan. Satu dari empat responden mengatakan, mereka masih belum sembuh dari patah hati karena cinta pertamanya.

Sunday, August 14, 2011

Tiap Menit Cek Ponsel, Kebiasaan Baru Pemakai Ponsel

Mungkin pada awalnya Anda membeli ponsel cerdas untuk membuat hubungan dengan orang lain tak berjarak dan meningkatkatkan produktivitas. Tetapi tanpa disadari kini Anda tidak bisa melewatkan 5 menit tanpa mengintip smartphone, entah itu melihat pesan yang masuk atau pun mengganti status di jejaring sosial.



Gejala tak bisa menahan diri untuk mengecek ponsel bukan hanya dialami Anda saja. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Personal and Ubiquitous Computing menunjukkan kebiasaan itu hadir di mana-mana.



Peneliti studi tersebut menemukan kebanyakan pengguna smartphone kini punya kebiasaan baru yang disebut "checking habits" alias terus menerus memeriksa email, pesan atau aplikasi lain seperti Facebook atau Twitter.



Disebutkan rata-rata kurang dari 10 menit mereka sudah "gatal" ingin memeriksa ponselnya. Rata-rata responden dalam penelitian itu memeriksa ponsel mereka 34 kali dalam sehari, bukan karena memang ada yang penting, tetapi karena hal itu sudah jadi kebiasaan atau memang ada dorongan.



"Dorongan itu sangat sulit dihindari. Bahkan kebanyakan tidak sadar apa yang sedang dilakuannya karena itu merupakan kebiasaan dibawah sadar," kata Loren Frank, neuroscietist dari Universitas California, Los Angeles.



Sebagai kebiasaan dibawah sadar, menurut Frank hal itu terjadi melalui dua proses. Pertama, otak menyukai perasaan ketika ia menerima email.



Pesan yang masuk ke ponsel adalah sesuatu yang baru dan seringkali isinya menyenangkan, misalnya pesanan untuk membeli dagangan kita atau barangkali pujian dari rekan kerja atas keberhasilan suatu projek.



"Setiap kali kita mendapat email ada sebuah sentakan kecil, sebuah feedback positif bahwa kita adalah orang yang penting. Ini bisa menjadi semacam ketagihan," kata Frank.



Ketika otak menjadi terbiasa dengan feedback positif, tangan mencari-cari ponsel menjadi sebuah hal yang otomatis walau kita tak bermaksud. Menurut Frank, keinginan untuk selalu memeriksa ponsel berasal dari striatum, bagian otak yang mengatur tindakan kebiasaan.



Sebentar-sebentar memeriksa ponsel cerdas tentu berdampak buruk pada kehidupan nyata. Sebut saja, pasangan merasa diabaikan, produktivitas kerja menurun, atau jadi jarang memperhatikan orang yang berada di sekitar kita.



Clifford Nass, profesor komunikasi dan ilmu komputer dari Stanford University berpendapat pada dasarnya manusia tidak suka berpikir keras.



"Kebiasaan memeriksa ponsel adalah cara untuk tak perlu berpikir keras tapi kita merasa seperti sedang mengerjakan sesuatu," katanya.



Jika Anda sudah masuk dalam kelompok ketagihan memeriksa ponsel, ada baiknya Anda menjauhkan diri dari ponsel beberapa jam dalam sehari. Bila hal itu membuat Anda tidak nyaman, mulailah dengan 10 menit.



Buatlah daftar zona bebas ponsel, misalnya di kamar atau saat Anda berada dalam situasi sosial seperti saat bersama teman atau keluarga. Tahanlah diri untuk tidak selalu menatap layar ponsel Anda.

Monday, August 8, 2011

Chit Chat dengan Teman Kantor Bikin Panjang Umur

Ngobrol dengan rekan kerja dapat menjadi obat pemulih penat dari rutinitas pekerjaan. Ini secara signifikan juga dapat meningkatkan umur.

Sebuah studi selama 20 tahun menemukan bahwa orang yang dilaporkan memiliki hubungan pertemanan yang rendah di tempat kerja, 2,4 kali lebih mungkin untuk meninggal selama studi dibandingkan rekan kerja yang pintar bergaul.

Studi ini meneliti 820 pekerja dewasa usia 25-65 tahun yang bekerja rata-rata 8,8 jam sehari dengan turut mengamati catatan kesehatan mereka. Peserta diambil dari berbagai latarbelakang untuk memperhitungkan berbagai faktor risiko psikologis, perilaku, atau fisiologis, seperti merokok, obesitas dan depresi. Berbagai bidang pekerjaan juga menjadi cakupannya, termasuk keuangan, kesehatan, dan manufaktur.

Para peserta ditanya tentang hubungan mereka dengan atasan dan teman sebaya di tempat kerja, seperti apakah rekan-rekan mereka ramah dan mudah didekati. Dari peserta yang meninggal selama penelitian, paling banyak terjadi pada orang yang memiliki hubungan sosial buruk dengan rekan kerja.

Kurangnya dukungan emosional di tempat kerja meningkatkan 140 persen risiko kematian dalam 20 tahun ke depan dibandingkan mereka yang berhubungan baik dengan rekan kerjanya.

"Kita menghabiskan sebagian besar waktu sedari bangun tidur di tempat kerja dan kita tidak punya banyak waktu untuk bertemu teman-teman selain teman kantor.
Pekerjaan harus menjadi tempat di mana orang bisa mendapatkan dukungan emosional yang diperlukan,” jelas Dr Sharon Toker dari Department of Organizational Behavior, Tel Aviv University's Leon Recanati, pemimpin studi.

Dia menambahkan, studi ini menegaskan persepsi bahwa dukungan emosional merupakan indikator terkuat bagi kesehatan seseorang di masa depan. Sementara membangun lingkungan yang kondusif, Dr Toker mengatakan bahwa banyak tempat kerja tidak bisa memfasilitasinya.

Meskipun kantor memakai konsep terbuka, banyak pekerja menggunakan e-mail daripada komunikasi tatap muka. Parahnya, situs jaringan sosial yang dapat menyediakan koneksi sosial yang signifikan, sering kali diblokir.

Guna menciptakan suasana kantor yang ramah bagi kesehatan, dia menyarankan adanya sudut kopi (coffee corner) di mana orang dapat berkumpul untuk duduk dan berbicara, mirip tamasya sosial informal bagi pekerja ataupun jaringan sosial dunia maya internal layaknya Facebook.

“Di sinilah tempat para karyawan dapat mendiskusikan tekanan dan masalah pribadi yang pada akhirnya dapat memengaruhi posisi mereka di tempat kerja,” tukasnya.